Jepang Terancam Resesi, Rupiah Melandai

Jepang Terancam Resesi, Rupiah Melandai

KABAR - KURS rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (12/11/2012) ditutup melemah 5 poin (0,051%) ke posisi 9.630/9.635 dari posisi akhir pekan lalu 9.625/9.630. 

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah awal pekan ini salah satunya masih dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi dunia. Terutama, kata dia, setelah Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang yang dirilis tadi pagi menunjukkan ancaman resesi.


PDB Jepang untuk kuartal III-2012 dirilis turun jadi -0,9% dari kurtal sebelumnya yang direvisi turun ke 0,1% (q to q). Sedangkan year on yaar PDB Jepang jadi negatif 3,5% dari seblumnya positif 0,3%. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.635 setelah mencapai level terkuat 9.615 dari posisi pembukaan 9.630 per dolar AS,” katanya, Senin (12/11/2012).

Pada saat yang sama, lanjut dia, investor juga harus menghadapi ketidakpastian pencairan dana bailout Yunani. Pasar melihat, Yunani tidak akan mendapatkan pencairan dana baiout dalam pertemuan Euro Group hari ini dan besok. "Apalagi, setelah topik pembahasan pertemuan Euro Group juga menemui jalan buntu," timpal dia.

Topik utama Euro Group adalah pembahasan anggaran Uni Eropa yang sejauh ini menemui jalan buntu. Pasalnya, Komisi Uni Eropa menginginkan anggaran Uni Eropa dinaikkan. Di sisi lain, Inggris menginginkan anggaran Uni Eropa dipangkas. "Sementara itu, Perancis dan Austria menginginkan subsidi untuk sektor pertanian tidak dipangkas," tuturnya.

Masalahnya, Inggris, Perancis dan Austria mengancam akan menggunakan hak veto-nya terhadap anggaran Uni Eropa jika tidak sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. "Karena itu, otomatis pembahasan mengenai bailout Yunani tidak menjadi agenda," timpal Firman.

Selain itu, lanjutnya, pasar khawatir terhadap perlambatan ekonomi China. Walaupun rilis data ekonomi China pada Sabtu (10/11/2012) kemarin menunjukkan peningkatan pada surplus neraca perdagangan China menjadi US$32 miliar dari sebelumnya US$27,7 miliar, tapi data yang dirilis pagi tadi masih menyisakan kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi China. "Terutama dengan data penyaluran kredit China yang turun ke 505 miliar yuan dari publikasi sebelumnya 623 miliar yuan," tuturnya.

Alhasil, dolar AS bertahan di level kuat dua bulan terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS kokoh di angka 81,06. "Terhadap dolar AS masih running ditransaksikan pada level kuat US$1,2708 per euro," imbuh Firman.(Inilah.com)



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Adhie, Published at 02.40 and have 0 komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar